Di Tengah Modernisasi, Anak-anak Muda Kukar Menjaga Irama Tingkilan Tetap Hidup
Suasana Suara Kota
Raja Podcast bersama Orkes Tingkilan Tepian Mahakam di Monumen Pancasila,
Tenggarong. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Di tengah modernisasi yang membawa generasi muda semakin dekat dengan beragam budaya baru, anak-anak muda di Kutai Kartanegara (Kukar) justru mengambil peran untuk menjaga irama Tingkilan tetap hidup.
Pelajar SD, SMP
hingga SMA kini menjadi bagian dari Orkes Tingkilan Tepian Mahakam, belajar
sekaligus tampil membawa kesenian khas Kutai ke hadapan masyarakat.
Upaya regenerasi itu
menjadi bagian dari kegiatan Suara Kota Raja Podcast bertajuk “Menyambut Erau
Adat Kutai 2026” yang digelar di kawasan Monumen Pancasila, Tenggarong, Rabu
(9/9/2026) malam.
Founder Orkes
Tingkilan Tepian Mahakam, Muhammad Irwansyah, mengatakan keterlibatan anak-anak
sekolah sengaja dibangun untuk memastikan kesenian Tingkilan tidak berhenti
pada generasi yang saat ini menjadi pelakunya.
Menurutnya, anak-anak
tersebut terus diberikan edukasi dan aktivitas berkesenian agar kemampuan
mereka berkembang, sekaligus memiliki pengalaman tampil di ruang publik.
“Orkes Tingkilan
Tepian Mahakam adalah sebuah pelestarian. Anak-anak sekolah, SD, SMP, dan SMA
terus berkarya di Orkes Tingkilan Tepian Mahakam, sehingga area monumen ini
menjadi sebuah pentas seni mereka untuk menunjukkan ke masyarakat bahwa mereka
terus menjadi generasi penerus tingkilan ke depan,” ujarnya.
Ia menyebut,
perjalanan kelompok seni tersebut perlahan mulai mendapat perhatian. Dukungan
pemerintah daerah dan masyarakat membuat para anggota memperoleh lebih banyak
kesempatan untuk tampil dalam berbagai kegiatan.
“Alhamdulillah dengan
kepercayaan masyarakat atau pemerintah daerah, anak-anak sudah bisa dihadirkan
dalam acara-acara profesional,” tuturnya.
Menjelang Erau Adat
Kutai 2026, kesempatan untuk membawa Tingkilan ke salah satu panggung budaya
terbesar di Kukar juga menjadi harapan.
Meski belum ada
kepastian, kelompok tersebut menyatakan siap apabila mendapat kesempatan dari
panitia.
“Kami kalau di Erau
belum tahu. Kami masih menunggu arahan dari panitia Erau. Kalau ditampilkan,
kami sangat bersedia, ya karena ini tingkilan,” ucapnya.
Tidak hanya menunggu
panggung besar, Orkes Tingkilan Tepian Mahakam juga menyiapkan ruang
pertunjukan secara rutin.
"Kalau di
monumen ini, kami sudah mengurus izin ke DLHK untuk bisa menjalankan kegiatan
ini untuk anak-anak di setiap malam Kamis, di jam 8 sampai jam 10,"
ujarnya.
Dari ruang yang
dibangun komunitas tersebut, dukungan kemudian datang dari pemerintah daerah.
Kepala Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Heriansyah menilai aktivitas tersebut menjadi
contoh bagaimana generasi muda dapat mengambil bagian dalam pelestarian budaya.
Ia mengatakan
pemerintah akan mendorong pengembangan Orkes Tingkilan Tepian Mahakam melalui
penguatan fasilitas sekaligus kemampuan sumber daya manusia.
“Ke depan ini akan
kita lebih intens lagi. Nanti akan kita support terkait dengan sarana-prasarana
serta peningkatan sumber daya manusianya,” ujarnya.
Pengembangan
tersebut, menurutnya, tidak harus berhenti pada kemampuan memainkan musik.
Penyajian karya juga dapat dikembangkan agar pesan yang terkandung di dalam
lagu dapat dipahami oleh masyarakat dari berbagai negara.
“Sinopsisnya tidak
hanya dalam bentuk Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam Bahasa Inggris, Bahasa
China, dan Bahasa Arab, misalnya. Yang itu bisa orang luar paham, makna dari
lagu ini seperti ini, kemudian musiknya seperti ini,” jelasnya.
Dengan pengembangan
tersebut, ia melihat Tingkilan memiliki peluang untuk menjadi salah satu pintu
memperkenalkan budaya Kukar ke tingkat yang lebih luas.
“Dan itu juga menjadi
sebuah potensi bagaimana kita memperkenalkan seni dan budaya kita tidak hanya
di lokal, tapi juga di internasional,” ucapnya.
Upaya menjaga
Tingkilan agar tetap memiliki generasi penerus juga mendapat dukungan dari
dunia usaha.
Direktur PT Mahakam
Gerbang Raja Migas (Perseroda) Kukar, Efri Novianto mengatakan, pihaknya
menjadi salah satu pembina Orkes Tingkilan Tepian Mahakam.
Dukungan diberikan
melalui penyediaan tempat latihan serta sarana dan prasarana melalui program
CSR.
Bantuan tersebut
antara lain digunakan untuk pengadaan alat musik dan kebutuhan legalitas
kelompok.
“Selain kita
mendukung dalam bentuk fasilitasi tempat, juga kita mengalokasikan sarpras
melalui CSR. Salah satunya adalah pembelian alat musik, pembelian bantuan
legalitas, dan bantuan lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan
budaya perlu dilakukan dengan mendekatkan anak-anak muda kepada aktivitas
kesenian.
Karena itu, latihan Tingkilan dan tari juga rutin dilakukan sebagai bagian dari proses pembinaan.
“Jadi kita memang
membuat program dalam rangka pembinaan budaya, khususnya budaya untuk anak
muda,” pungkasnya. (Kriz)